TIRANI PERKAWINAN
Dalam perjalanannya ia berhenti di suatu tempat dan membangun sebuah rumah yang dekat dengan sebuah Telaga yang memiliki air jernih dan sejuk. Di samping telaga itu ada sebuah pohon rindang yang penuh dengan buahnya.
Pada suatu hari Awang
Sukma duduk dekat pohon rindang tersebut dan meniup serulingnya. Mendadak, ia
mendengar suara ramai dari arah Telaga. Awang Sukma pun berhenti meniup
serulingnya dan mengintip ke arah Telaga dari arah tumpukan batu yang bercelah.
Dan di sana terlihat
ada bidadari yang tengah menikmati Telaga itu, karena keasyikan mereka
tidak memperhatikan selendang sakti mereka yang akan digunakan untuk kembali ke
kayangan. Memanfaatkan momen itu, Awang Sukma kemudian mengambil salah satu
selendang bidadari yang kebetulan terletak dekat tempat persembunyiannya. Lalu
saat ini kembali langkahnya kedengaran oleh bidadari yang sedang mandi, mereka
segera naik dan ingin kembali ke kayangan tetapi salah satu bidadari kehilangan
selendangnya karena telah disembunyikan oleh Awang Sukma.
lalu bidadari yang lain pun kembali dan tertinggallah bidadari itu sambil menangis, lalu keluarlah Awang Sukma dan menawarkan bantuannya. lalu si bidadari itu mengikuti Awang Sukma ke tempat tinggalnya. Setelah beberapa lama akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan dikaruniai seorang putri cantik bernama Kumalasari, mereka hidup bahagia.
Suatu hari, seekor ayam
hitam masuk ke dalam lumbung padi dan mengacak-acak padi yang ditumpuk di sana.
Sang bidadari pun berusaha mengusir ayam tersebut. Mendadak, pandangannya
tertuju pada sebuah bumbung kayu yang tergeletak di dekatnya.
“Kira-kira apa isinya,
ya?” pikir sang bidadari sambil membuka tutup bumbung. Betapa terkejutnya ia
saat melihat barang yang selama ini dicarinya ada di dalam bumbung.
“Ini selendangku!”
serunya dengan perasaan senang bercampur kesal. Bahagia karena akhirnya ia bisa
menemukan kembali selendang saktinya itu, dan marah karena rupanya
suaminya sendiri yang menyimpan selendangnya.
Sang bidadari akhirnya
membulatkan tekadnya untuk kembali ke kahyangan. Ia langsung mengambil
selendangnya itu dan mengenakannya. “Kini saatnya aku kembali ke kahyangan!”
serunya.
Datu Awang Sukma yang
melihat kejadian itu langsung mendekat dan meminta maaf kepada istrinya.
Sayangnya, apa pun yang ia ucapkan tak bisa mengubah tekad sang bidadari untuk
pulang.
“Kanda, aku akan pulang
ke kahyangan. Rawatlah Kumalasari dengan baik,” ucap sang bidadari seraya
menyerahkan buah hati mereka kepada Awang Sukma, “Jika Kumalasari merindukanku,
ambillah tujuh biji kemiri kemudian masukkan ke dalam bakul yang diguncang-guncangkan.
Iringilah dengan lantunan seruling, dan aku akan turun dari kahyangan.”
Sesudahnya, sang
bidadari segera mengenakan selendangnya dan terbang ke kahyangan. Datu Awang
Sukma hanya bisa menatap sedih kepergian istrinya dan bersumpah untuk
melarang keturunannya memelihara ayam hitam. Karena menurutnya, ayam
tersebutlah yang membawa malapetaka dalam hidupnya.
Selengkapnya dapat
dibaca; https://www.poskata.com/pena/cerita-legenda-telaga-bidadari/
SUBSTANSI LEGENDA
Dari Legenda di atas
setiap dari pembaca akan mendapatkan inti sari masing-masing dari kisah ini,
tetapi ini tentang Inti sari saya, dan untuk pembaca sekalian bebas memiliki inti sari sesuai dengan yang kalian tangkap dari kisah di atas.
Kisah ini menurut saya
berbicara tentang kehidupan seorang perempuan atau seorang anak gadis yang pada
dasarnya telah diberikan kemerdekaan dari tempat ia berada. Seorang perempuan
ketika dilahirkan dalam sebuah keluarga ia telah diberikan gelar sebagai seorang
putri dalam istana keluarga masing-masing.
Ia akan dididik dengan
aturan dalam istana itu dan lambat laun ia akan terbiasa dengan aturan itu dan
mengamalkan dalam kehidupannya. Kita tahu bahwa, setiap anak perempuan ketika
ia masih berada dalam lingkungan keluarganya, akan bebas melakukan apa pun,
seperti, ia bisa bangun kapan pun dia mau, ia bisa memiliki banyak waktu untuk
mengurus dirinya sendiri dan dia dapat pergi ke mana pun jika telah mendapat
kepercayaan dari orang tuannya.
Selama ia masih berada
dalam istana orang tuannya ia masih memiliki kuasa atas waktu dan dirinya
sendiri. Memang tidak banyak anak perempuan mendapat keberuntungan ini. Tetapi
bayak anak perempuan yang merdeka dengan waktu dan hidupnya selagi ia masih ada
dalam istana Ayah dan Ibunya.
Seperti kisah di atas
ketujuh bidadari ini dapat pergi untuk sekedar menikmati air sejuk dibumi tanpa
terbebani dengan urusan istana atau status bidadarinya. Mereka pergi untuk
sekedar menyenangkang hati mereka. Tetapi karena tipu daya seorang lelaki dengan
ketampanan dan kegagahan buatan imajinasi wanita, datang untuk mencuri salah
satu akses kepada Kemerdekaan wanita, dengan sebuah pernikahan yang adalah awal
dan dasar dari pemenjaraan kemerdekaan wanita dalam lumbung tanggung jawab
dan iming - iming surga.
Perempuan didoktrinkan
dalam rumah pernikahan bahwa, jika ia berbakti kepada suaminya maka surga
menjadi miliknya. Untuk memiliki surga, perempuan harus bisa memberikan salah
satu hal berharga yang ia miliki yang tidak lain adalah kemerdekaan atas dirinya
dan waktunya.
Dia harus menggadaikan
hal berharga itu hanya untuk kehidupan setelah kematian yang tak seorang pun
tahu dan hanya sekali dalam hidup. Perempuan rela melakukan itu sebagai budak
sepanjang hidup dalam rumah nikah. Menjadi pelayan sex, menjadi cleaning
Service seumur hidup, menjadi Baby Sister seumur hidup, menjadi pelayan seumur
hidup yang kesemuannya itu hanya dihargai dengan Selembar
kertas/Surat Nikah, dan iming - iming surga, atau kontrak karya
seumur hidup untuk menjadi budak. Semua itu dilakukan dengan manipulatif
seorang pria dengan ketampanan dan surga buatannya. Perempuan harus tunduk dan
menjadi pelayan.
Dari kisah di atas kita
belajar bahwa, saat mencuri selendang ia pergi menyembunyikan selandang itu,
lalu datang dan berubah wujud menjadi seorang penolong. Pada hal kita tahu
bahwa dia adalah seorang pencuri yang sedang bersembunyi dalam jubah seorang penolong.
Ia datang dengan pertolongan untuk mempersunting seorang perempuan merdeka
dengan perbudakan seumur hidup.
Saat dipersunting
seorang perempuan diperlakukan selayaknya seorang putri dan bidadari, dengan
acara penyambutan yang meriah tetapi yang tidak disadari perempuan adalah ia
sedang dibuat arak-arakan "selamat datang dalam penderitaan". tetapi banyak dari
sahabat - sahabatnya mulai mengirim pesan dengan "Selamat menempuh hidup
baru ya?" atau selamat berlayar dalam Bahtra rumah tanggah ya?" dan
banyak kata lagi yang tidak pernah di sadari bahwa, hanya beberapa saat, ia
diperlakukan sebagai putri setelah itu matanya akan terbuka dengan kenyataan
pahit, yang akan ditelannya seumur hidupnya. Ditambah lagi jika dia seorang
Kristen maka ia akan dililit dengan pernyataan " Apa yang dipersatukan
Allah tidak bisa di Ceraikan manusia". Dan hal itu akan menjadi rantai
yang akan memenjarakan hidupnya hingga ia menutup mata. Jika Pangeran yang
datang adalah seorang Sipir Penjara maka wanita itu akan siap masuk dalam
penjaranya seumur hidup.
Karena itu sebagai
wanita, kita harus berpikir sebelum memutuskan untuk menjawab tuntunan
masyarakat seperti " Kapan Nikah?, Setelah itu, Kapan Punya Anak?,
sekaligus saja! tanya Kapan jadi Budak? haha...
Hay wanita kita itu hidup untuk diri kita sendiri, bukan untuk menjawab ekspektasi masyarakat, kita pantas untuk menunda atau sama sekali tidak menjawab tuntutan masyarakat untuk harus menikah. Kita bebas untuk lebih lama menggunakan kemerdekaan ini. Tidak perlu terburu-buru dan menjadikan pernikahan sebagai sebuah pertandingan. Siapa cepat untuk menikah dia pemenangnya.
ingat bahwa!, akhirnya
kepahitan dalam rumah tanggah itu, hanya kita yang akan nikmati, sedangkan
kebahagiaan itu menjadi konsumsi banyak orang. Kita dituntut untuk membuat
kebahagiaan untuk sekedar menyenangkan orang lain, tetapi penderitaan seumur
hidup menjadi milik kita sendiri.
kebahagiaan layah untuk
dibagi, tetapi penderitaan tidak layak untuk dibagi, hanya menjadi konsumsi
pribadi. Kawan - kawan ku, bukan maksudku untuk melarang kalian untuk menikah
tetapi boleh jika kalian telah siap untuk segala hal yang ditimbulkan dari pernikahan
itu.
Untuk itu akhir dari
tulisan ini saya mau menyampaikan beberapa hal bahwa:
Pria atau Wanita itu adalah titipan, kapan pun ia akan diambil dari kita, jika dia bukan milik kita maka, Dia akan diambil entah oleh wanita lain atau di Ambil Tuhan. Jadi jangan terlalu berakseptasi lebih ketika menikah, kita harus tetap mempersiapkan sumber daya kita sendiri secara finansial atau mental agar ketika waktu perpisahan itu tiba, kita bisa melanjutkan hidup dengan sumber daya yang kita miliki, dan tidak dibuat tergantung oleh orang lain.
So, Kerja sayang, siapkan uang dan mentalmu, agar dalam perbudakan 50%, aturanmu bisa diakomodir.
50% ya?, jangan 100% nanti kita menjadi penindas baru hahaha....